Inilah ceritaku, kutulis pada tanggal 30 November 2010, masih tak jauh dari soal percintaan. Namun, cerita yang kali ini sedikit rumit bagiku, karena banyak orang yang bersangkutan. Kira-kira cerita nyata atau bukan yaa?
Baca yuuk...
***
“Kelompok 8, anggotanya Ben, Syaiful, Sani, Ajeng, Ika, Runi, dan terakhir Tya. Ayo cepet ngumpul sama kelompoknya masing-masing. Dan jangan lupa, besok jam 5 pagi harus udah ada di kampus! Oiya, jangan lupa juga bawa peralatan yang udah disebutin tadi. Kalau besok sampai ada yang telat atau lupa bawa alat-alat yang harus dibawa, nanti bakal dikasih sanksi, ngerti?!” kata salah satu seniorku,
“Ngerti ka…!” jawab kami kompak.
Dan kami pun berkumpul untuk membagi barang-barang yang harus dibawa untuk ospek besok.
“Oh iya, aku minta nomer hape kalian dong, biar nanti gampang dihubunginnya.” Kataku.
“Gua ngga ada hape.” Jawab Ben.
~Zaman sekarang masa iya masih ada anak muda yang ngga punya hape? Tanyaku dalam hati.~
“Ya udah, ngga apa-apa, yang punya aja tulis di sini ya, jangan lupa juga dikasih nama.” sahutku sambil menyodorkan secarik kertas dan pulpen.
Mereka akhirnya menuliskan nomer handphone-nya masing-masing.
“Oh iya, Ben, aku nitip minta tolong beliin pulpen merah sama pulpen hitam ya, besok uangnya aku ganti.” Pintaku ke Ben, lantaran aku takut tidak sempat ke tempat foto kopi.
“I-iya, Jeng, nanti gua beliin.” Jawabnya sedikit gagap.
“Jangan sampe lupa loh..” Kataku lagi meyakinkan.
“Iya, tenang aja.”
“Ya udah, makasi ya.” Jawabku.
Keesokan harinya pun tiba, semua peralatan yang harus aku bawa sudah lengkap berada di dalam tas dari karung terigu yang telah kubuat tadi malam bersama kekasihku Fadly, termasuk pulpen yang sebelumnya aku pesan dari Ben, ternyata tadi malam sempat aku beli sendiri. Dan aku tidak sempat bertanya pada Ben, apakah dia membawa titipan pulpenku atau tidak, dan sampai saat ini (Selasa, 30 November 2010) aku tidak pernah tahu apakah waktu itu dia bawa atau tidak.
Kegiatan ospek pun berjalan sebagaimana mestinya. Rasa lelah dan dongkol yang aku rasakan, namun rasa itu buyar ketika Ben berada di dekatku, dia seolah melindungiku. ~Ah, perasaan apa ini, aku ngga boleh mikir kayak gini, inget sama cowokmu, Jeng..~
Ospek pun berlalu, hingga aku tak pernah bertemu lagi dengan Ben karena perkuliahan belum dimulai sehingga kami diliburkan. Hingga pada akhirnya aku lupa dengan sosok yang bernama Ben.
***
Hari pertama perkuliahan dimulai. Seperti biasa, hari pertama aktifitas belum dilaksanakan secara efektif, kegiatan hanya pembagian kelas dan sedikit pengarahan dari wali kelas. Dan aku, melihat Ben berada di dalam satu kelas yang sama denganku. ~^_^~
Hari demi hari kulewati dengan normal. Sampai suatu ketika, Jamil, teman sekelasku yang merupakan kerabat dekat Ben menghampiriku, dia terlihat ingin berbicara serius tapi meragukan.
“Jeng, menurut kamu, Ben itu gimana?”
“Gimana apanya?” tanyaku bingung, sambil melihat ke arah Ben yang sedang nyengir-nyengir di kejauhan sana.
“Iya, Ben itu gimana? Dia ganteng ngga? Ajeng suka ngga sama Ben?”
“Aku ngga tau, emang kenapa?”
“Katanya, Ben itu suka sama Ajeng, Ajeng mau ngga jadi pacar dia?”
~Nih orang lagi bercanda atau apa sih?~
“Aku kan udah punya pacar, Mil..” Jawabku.
“Jadi Ajeng ngga mau jadi pacar Ben? Ben itu suka banget loh sama kamu..”
~Aku ngga bilang aku ngga mau, aku cuma bilang aku udah punya pacar.~
“Masa sih? Emang dari kapan sukanya?
“Katanya, dari pas ospek waktu itu.”
”Masa? Perasaan waktu itu sikapnya biasa aja, ngga ada yang nunjukin kalau dia itu suka.”
“Dia itu kayak gitu karena malu sama Ajeng, jadi gimana nih mau ngga jadi pacarnya Ben?
~Aku ngga bilang ngga mau, Mil~
“Gimana, aku kan udah punya pacar..”
“Jadi Ajeng ngga mau?”
~JAMIL, aku ngga bilang begitu!~
Jawabanku hanya sebuah anggukan.
“Oh ya udah ya, Jeng, makasih..” Jamil pun berlalu, dan sepertinya menuju ke arah Ben.
Setelah kejadian itu, aku jadi bingung, senang, tapi aku juga bertanya-tanya, apa benar yang diucap Jamil?
Hingga aku pun menulis sebuah puisi cinta tentang Ben, namun entah kemana puisi itu kusimpan, atau apakah sudah terbuang, yang pasti Ben tak pernah tahu soal itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar